S.A.T.U J.A.M

Pagi itu awal bulan kesepuluh

Ku lihat jadwal kereta KRL, ternyata yang paling pagi sudah lewat.  Ya sudah Tak apalah masih bs setengah jam lagi. Duduk ku menunggu KRL berikutnya sambil kumainin gadget ditanganku. Buka buka Instagram, WhatsApp sambil mendengarkan musik biar nggak gabut. Tak terasa 30 menit berlalu, KRL sudah datang. Syukurlah dapat tempat duduk. Penumpang KRL kalau weekend biasa penuh. Terlihat semua orang butuh liburan. Mereka sadar dengan kebutuhan healing sudah jadi kebutuhan pokok untuk kesehatan mentalnya.

Ku pasangkan headset lagi mulai dengarkan lagu lewat aplikasi music. Lagu yang kudengar tentu lagu yang pernah Bintang kirim lewat chat. Lewat lagumu, aku bisa merasakan keadaanmu saat itu. Dari lagumu itu aku merasa jarak kita tak begitu jauh. Aku merasa kamu selalu ada di dekatku.
 
Dua puluh menit berlalu, sebentar lagi aku sampai di stasiun tujuanku. Benar, aku langsung siap-siap di depan pintu KRL untuk turun. Jantungku berdebar-debar, tanganku berkeringat dingin. Tau kenapa? Ketemu kamu Bintang, seperempat abad. Bukan waktu yang singkat untuk penantian. Tidak pernah terpikirkan olehku kita bisa bertemu lagi. Bintaaaaaaang... teriakku dalam hati.

AC KRL membuatku kedinginan, sebelum keluar stasiun kusempatkan untuk ke toilet. Terdengar HPku berbunyi, ternyata kamu. Sabar ya Bintang. Gumamku dalam hati... padahal tujuanku hanya mempersiapkan diriku untuk menemuimu. Menata hati dan mengumpulkan kekuatan, keberanian, menetralisir keadaan biar tampak biasa saja.

Lalu ku telpon balik kamu, untuk menanyakan posisimu. Yap... kamu menjemputku di depan stasiun. Tuhan.... tak bisa kusembunyikan rasa bahagia ini. Tatapanmu masih sama seperti dulu. Tatapan mata kamu seolah bicara sejuta kata walau kamu hanya tersenyum menyambutku. Aku seperti kembali ke masa itu. 

Lalu,... Aku duduk disampingmu. Ternyata menata hati itu sulit ya. Aku tetap saja canggung. Aku bingung mo ngobrol tentang apa. Aku sebenarnya pingin menangis dan meluapkan emosiku di depanmu Bintang. Tapi entah kenapa rasa bahagiaku lebih mendominasi hatiku. Rasanya aku ingin memelukmu erat dan tak kan kulepaskan lagi. 

Kemudian Bintang membawaku ke sekolah kita dulu. Di dalam mobil, hanya cerita masa lalu yang bisa kita bahas. Selebihnya tidak ada, karena kita tidak punya masa depan. Bintang lebih banyak mengklarifikasi keadaannya 25 tahun lalu. Bintang tak benar benar pergi meninggalkanku. Dia selalu ada di dekatku dan mencariku. Itu penjelasannya yang selalu kuanggap dia hilang pergi meninggalkanku tanpa kata. Seperti senja yang selalu meninggalkan langit tanpa aba aba.

Satu jam bersamamu begitu cepat, perdebatan yang sebenarnya tak ada gunanya. Karena tak mampu mengubah apapun untuk kita berdua.  Cerita tentang kita sudah usai. Dan pertemuan ini tidak akan mengubah takdir kita. 

Waktu berjalan begitu cepat seakan ikut berlomba dengan perdebatan kita. Entah kenapa waktu tidak mau berjalan lambat disaat kita bersama. Kita terlalu bahagia dengan kebersamaan ini hingga tak terasa satu jam sudah berlalu. Iya benar, hanya satu jam bersamamu


Bintang.. 
Andai aku mampu hentikan waktu
Aku ingin selalu berada diwaktu ini bersamamu

Tuhan..
Kenapa Pertemuan ini begitu mudahnya
Kenapa dulu tidak semudah ini
Kenapa.... baru sekarang...
Saat aku dengannya
Dan kamu dengan dia

Terimakasih Tuhan
Untuk waktu yang singkat ini

Komentar

  1. Senyum dan tangis dalam satu waktu

    BalasHapus
  2. Sesungguhnya tidak pernah ada perpisahan utk sebuah perasaan, krn rasa itu tidaklah berwujud...sementara perpisahan itu hanya berlaku untuk fisik. Rasa bukan tentang memiliki, rasa adalah tentang membebaskan kebahagiaan. Rasa tidak terikat norma, krn norma hanya mengatur sikap. Jika ada benang merah tentang masa lalu, masa kini dan masa depan.....itu pasti masa lah. 😊

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer