LUKA DAN OBATKU


Pikiranku menerawang jauh pada kejadian tahun lalu. Seandainya saja aku tidak menyambutmu dengan hati. Seandainya aku tidak meresponmu dengan bahagia. Mungkin nggak akan ada cerita indah diantara kita. Aku nggak akan menyalahkanmu untuk cerita ini. Biar aku saja, aku yang dari dulu terlalu excited menanggapi mu. Harusnya kuingat ingat itu rasa sakit yang pernah kamu buat untukku dan tetap menguburmu di dasar hatiku. 

Menyesal?? Tidak juga. Toh ini sudah digariskan untuk kita. Aku hanya terus mencaci maki diriku sendiri. Betapa bodohnya aku. Harusnya kamu pikir dua kali. Tapi siapa yang bisa menekan rasa ketika seseorang yang dicarinya bertahun-tahun tiba tiba-tiba datang. Logikaku sekita tersudutkan tidak bisa melawan kebahagiaan yang menyelimuti hatiku, bahkan kamu yang dulu kutaruh paling dalam seketika kembali memenuhi seluruh ruang dihatiku. 

Kenapa aku tidak bisa membencimu??
Untuk yang lain aku bisa, kenapa padamu aku lemah tidak berdaya. Aku tau kamu juga berusaha membantuku kembali seperti sebelum pertemuan kita. Akupun juga sedang berusaha melakukannya. Namun belum ada hasilnya. Tau nggak ketika kita ngobrol kamu sebenarnya obatku dan lukaku. Obat karena kerinduanku, sedangkan luka ketika kamu menyebut nya. Sakit... 



Komentar

Postingan Populer